Sabtu, 15 Januari 2011

TNI CIPTAKAN ROBOT BARU

23 Oktober 2009

Salah satu robot ciptaan TNI-AD (photo : Melani101006)
MALANG(SI) – Siapa bilang anak negeri tidak mampu menciptakan teknologi perang, seperti produksi Pentagon Amerika Serikat atau negara maju lainnya.
Buktinya,meski dengan segala keterbatasan fasilitas yang dimiliki Lembaga Pengkajian Teknologi (Lemjitek) TNI AD, Karangploso,Kabupaten Malang, mampu menciptakan robot tempur. Robot tempur yang masih dalam bentuk prototype ini, sudah mampu dioperasionalkan dan diujicobakan di lapangan terbuka. Sistem operasionalnya juga sangat canggih, yakni menggunakan sistem kendali jarak jauh memanfaatkan gelombang radio.

Menurut salah seorang anggota teknisi lapangan Lemjitek TNI AD, Kapten Arh.Petrus Gunawan, prototype robot tempur ini sudah beberapa kali diujicobakan,dan mampu menempuh jarak hingga 1 km dari pusat kendali. ”Ukurannya 1,5 m kali 0,5 m dengan berat sekitar 100 kg. Robot ini memiliki mesin penggerak dua roda,dan mampu mengangkut beban hingga sekitar 150 kg, kecepatan maksimalnya bisa mencapai 60 km/jam,” terangnya. Robot yang diciptakan pada tahun 2009 dan belum memiliki nama ini, digerakkan dengan tenaga listrik dari dua baterei yang tersimpan di dalam bodi robot.

Dua baterei ini memiliki kekuatan 36 volt yang berfungsi untuk penggerak, dan 12 volt untuk sistem kontrolnya. Gunawan mengaku, kondisi robot ini belum sepenuhnya sempurna karena baru selesai proses perakitannya, kemungkinan masih sekitar 70-80% dari kondisi ideal yang diinginkan. Meski dinyatakan belum sepenuhnya sempurna, namun robot tempur ini memiliki kemampuan yang setara dengan robot tempur impor. Selain dapat dikendalikan secara jarak jauh, robot ini dilengkapi dengan kamera pengintai sebanyak enam unit,dan sensor ultra- sonic untuk mengenali setiap hambatan yang dihadapi.

”Kami juga memasang dua senjata perusak pada robot ini, yakni senapan mesin ringan (SMR) jenis Minimi kaliber 5,56 mm, dan roket anti tank Estalansa caliber 90 mm yang bisa dioperasionalkan dari jarak jauh,”ungkapnya. Rencananya Lemjitek TNI AD akan terus menyempurnakan robot tempur ini,bahkan akan mengusulkannya ke Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) TNI AD,untuk dijadikan salah satu perlengkapan tempur. Teknisi lapangan Lenjitek TNI AD lainnya,Kapten Arm.Gatut Yuli Susanto mengaku,robot tempur ini sengaja dirancang untuk senjata pengintaian sehingga dilengkapi kamera dan alat sensor.
”Namun, apabila ada kondisi darurat seperti ada serangan dari lawan,baik senjata ringan maupun kendaraan tempur berat, robot ini mampu juga menjadi alat tempur yang efektif dan aman,karena bisa dikendalikan dari jauh”katanya.

TNI CIPTAKAN ROBOT BARU

23 Oktober 2009

Salah satu robot ciptaan TNI-AD (photo : Melani101006)
MALANG(SI) – Siapa bilang anak negeri tidak mampu menciptakan teknologi perang, seperti produksi Pentagon Amerika Serikat atau negara maju lainnya.
Buktinya,meski dengan segala keterbatasan fasilitas yang dimiliki Lembaga Pengkajian Teknologi (Lemjitek) TNI AD, Karangploso,Kabupaten Malang, mampu menciptakan robot tempur. Robot tempur yang masih dalam bentuk prototype ini, sudah mampu dioperasionalkan dan diujicobakan di lapangan terbuka. Sistem operasionalnya juga sangat canggih, yakni menggunakan sistem kendali jarak jauh memanfaatkan gelombang radio.

Menurut salah seorang anggota teknisi lapangan Lemjitek TNI AD, Kapten Arh.Petrus Gunawan, prototype robot tempur ini sudah beberapa kali diujicobakan,dan mampu menempuh jarak hingga 1 km dari pusat kendali. ”Ukurannya 1,5 m kali 0,5 m dengan berat sekitar 100 kg. Robot ini memiliki mesin penggerak dua roda,dan mampu mengangkut beban hingga sekitar 150 kg, kecepatan maksimalnya bisa mencapai 60 km/jam,” terangnya. Robot yang diciptakan pada tahun 2009 dan belum memiliki nama ini, digerakkan dengan tenaga listrik dari dua baterei yang tersimpan di dalam bodi robot.

Dua baterei ini memiliki kekuatan 36 volt yang berfungsi untuk penggerak, dan 12 volt untuk sistem kontrolnya. Gunawan mengaku, kondisi robot ini belum sepenuhnya sempurna karena baru selesai proses perakitannya, kemungkinan masih sekitar 70-80% dari kondisi ideal yang diinginkan. Meski dinyatakan belum sepenuhnya sempurna, namun robot tempur ini memiliki kemampuan yang setara dengan robot tempur impor. Selain dapat dikendalikan secara jarak jauh, robot ini dilengkapi dengan kamera pengintai sebanyak enam unit,dan sensor ultra- sonic untuk mengenali setiap hambatan yang dihadapi.

”Kami juga memasang dua senjata perusak pada robot ini, yakni senapan mesin ringan (SMR) jenis Minimi kaliber 5,56 mm, dan roket anti tank Estalansa caliber 90 mm yang bisa dioperasionalkan dari jarak jauh,”ungkapnya. Rencananya Lemjitek TNI AD akan terus menyempurnakan robot tempur ini,bahkan akan mengusulkannya ke Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) TNI AD,untuk dijadikan salah satu perlengkapan tempur. Teknisi lapangan Lenjitek TNI AD lainnya,Kapten Arm.Gatut Yuli Susanto mengaku,robot tempur ini sengaja dirancang untuk senjata pengintaian sehingga dilengkapi kamera dan alat sensor.
”Namun, apabila ada kondisi darurat seperti ada serangan dari lawan,baik senjata ringan maupun kendaraan tempur berat, robot ini mampu juga menjadi alat tempur yang efektif dan aman,karena bisa dikendalikan dari jauh”katanya.

KODAM BARU DI PAPUA

12 November 2009

Pasukan TNI AD dalam perayaan HUT TNI (photo : Kompas)

TNI Berencana Tambah Kodam Baru

JAKARTA (SI) – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI) berencana melakukan pemekaran komando teritorial dengan menambah komando daerah militer (kodam) di beberapa wilayah.

Salah satu wilayah yang akan ditambah adalah Papua. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Letnan Jenderal TNI George Toisutta mengatakan,Angkatan Darat sedang melakukan kajian-kajian untuk penambahan beberapa kodam baru. ”Yang di Papua, Insya Allah akan ada (penambahan kodam),” ujar George seusai menghadiri upacara serah terima jabatan KSAD di Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta, kemarin.

Selain di Papua, penambahan kodam juga akan dilakukan di Kalimantan Barat. Terkait kesiapan TNI AD dalam menghadapi ancaman terorisme, George menyatakan, hal itu merupakan salah satu tugas pokok TNI yang dilakukan dengan operasi militer selain perang. Hal ini, ujar dia, sesuai dengan amanah UU 34/2004 tentang TNI.

”Untuk penanganan terorisme, tetap kita bantu pihak kepolisian,”paparnya. Sementara itu, dalam amanatnya, Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengatakan, mekanisme pergantian jabatan merupakan hal yang wajar di lingkungan TNI. Dia mengingatkan,pergantian jabatan bukan hanya dengan mengganti personel, melainkan juga mengandung makna dan misi berkesinambungan yang harus dilanjutkan pejabat baru.

”Mekanisme pergantian jabatan adalah hal yang wajar, tapi bukan sekadar pergantian personel.

Pergantian ini diharapkan bisa menjaga kesinambungan misi TNI Angkatan Darat sekaligus proses dinamisasi organisasi seiring tuntutan tugas yang semakin berat,”kata Panglima. Pergantian personel, ujar dia, turut pula mengandung makna semangat pembaruan dan penyegaran pemikiran.Lebih lanjut, Djoko mengatakan, dengan perkembangan yang ada,tantangan tugas TNI semakin dinamis dan kompleks. Panglima meminta,TNI AD dapat terus melakukan pembinaan terarah dan berkesinambungan.

KODAM BARU DI PAPUA

12 November 2009

Pasukan TNI AD dalam perayaan HUT TNI (photo : Kompas)

TNI Berencana Tambah Kodam Baru

JAKARTA (SI) – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI) berencana melakukan pemekaran komando teritorial dengan menambah komando daerah militer (kodam) di beberapa wilayah.

Salah satu wilayah yang akan ditambah adalah Papua. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Letnan Jenderal TNI George Toisutta mengatakan,Angkatan Darat sedang melakukan kajian-kajian untuk penambahan beberapa kodam baru. ”Yang di Papua, Insya Allah akan ada (penambahan kodam),” ujar George seusai menghadiri upacara serah terima jabatan KSAD di Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta, kemarin.

Selain di Papua, penambahan kodam juga akan dilakukan di Kalimantan Barat. Terkait kesiapan TNI AD dalam menghadapi ancaman terorisme, George menyatakan, hal itu merupakan salah satu tugas pokok TNI yang dilakukan dengan operasi militer selain perang. Hal ini, ujar dia, sesuai dengan amanah UU 34/2004 tentang TNI.

”Untuk penanganan terorisme, tetap kita bantu pihak kepolisian,”paparnya. Sementara itu, dalam amanatnya, Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengatakan, mekanisme pergantian jabatan merupakan hal yang wajar di lingkungan TNI. Dia mengingatkan,pergantian jabatan bukan hanya dengan mengganti personel, melainkan juga mengandung makna dan misi berkesinambungan yang harus dilanjutkan pejabat baru.

”Mekanisme pergantian jabatan adalah hal yang wajar, tapi bukan sekadar pergantian personel.

Pergantian ini diharapkan bisa menjaga kesinambungan misi TNI Angkatan Darat sekaligus proses dinamisasi organisasi seiring tuntutan tugas yang semakin berat,”kata Panglima. Pergantian personel, ujar dia, turut pula mengandung makna semangat pembaruan dan penyegaran pemikiran.Lebih lanjut, Djoko mengatakan, dengan perkembangan yang ada,tantangan tugas TNI semakin dinamis dan kompleks. Panglima meminta,TNI AD dapat terus melakukan pembinaan terarah dan berkesinambungan.

TNI TAMBAH KEKUATAN DI KODAM XII

26 September 2010

Tank tempur ringan Scorpion (photo : Detik)

Pontianak, (ANTARA) - Komando Daerah Militer XII Tanjungpura mulai membangun satu batalion tank bagian Komando Strategi dan Cadangan Angkatan Darat awal tahun 2011 guna menambah kekuatan di kawasan perbatasan Indonesia dengan Malaysia.

"Batalion tank itu akan kami tempatkan di Kabupaten Bengkayang, untuk memudahkan mobilisasinya kendaraan berat itu di sepanjang kawasan perbatasan Kalbar - Malaysia," kata Komandan Korem 121 Alambhana Wanawai Kolonel Inf Toto Rinanto di Pontianak, Sabtu.

Ia menjelaskan, rencana pembentukan batalion tank itu secara detil masih digodok di Mabes TNI AD.

"Pada dasarnya kami siap mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik dari gangguan luar dan dalam," kata Totok.

Menurut dia, lokasi akan dibangunnya batalion tank itu sudah dipersiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bengkayang.

"Saya bersama Pangdam XII Tanjungpura sudah turun langsung meninjau lokasi pembangunan batalion tersebut," ujarnya.

Sebelumnya Panglima Kodam XII Tanjungpura Mayjen TNI Moeldoko membenarkan, pembangunan batalion tank di Bengkayang akan dimulai pada 2011. Jumlah personel yang ditempatkan untuk batalion tersebut sekitar 600 orang.

"Sekarang, yang ada hanya setingkat Detasemen Kavaleri," kata dia.

Selain itu, jenis tank yang digunakan saat ini akan diganti dengan yang berkapasitas dan kemampuan tempur lebih baik. Jumlahnya pun lebih banyak.

Menurut dia, penempatan batalion tank di Bengkayang dengan pertimbangan daerah tersebut merupakan poros tengah di Kalbar.

Mobilisasi ke berbagai daerah di Kalbar juga lebih mudah dan cepat karena infrastruktur relatif baik.

"Misalnya menuju Sanggau, atau daerah perbatasan lainnya, mudah dilakukan," kata Moeldoko.

Kodam XII Tanjungpura juga akan terus melakukan pembinaan teritorial terpadu dengan pemerintah daerah setempat di wilayah perbatasan. Diantaranya mengenai aspek kesadaran bela negara, kewarganegaraan yang sadar akan hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Ia melanjutkan, penanganan di perbatasan perlu dilakukan secara menyeluruh. "Tidak hanya membangun sistem pertahanan dan keamanan," katanya.

Kodam XII Tanjungpura bermarkas di Pontianak dengan cakupan dua provinsi yakni Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

TNI TAMBAH KEKUATAN DI KODAM XII

26 September 2010

Tank tempur ringan Scorpion (photo : Detik)

Pontianak, (ANTARA) - Komando Daerah Militer XII Tanjungpura mulai membangun satu batalion tank bagian Komando Strategi dan Cadangan Angkatan Darat awal tahun 2011 guna menambah kekuatan di kawasan perbatasan Indonesia dengan Malaysia.

"Batalion tank itu akan kami tempatkan di Kabupaten Bengkayang, untuk memudahkan mobilisasinya kendaraan berat itu di sepanjang kawasan perbatasan Kalbar - Malaysia," kata Komandan Korem 121 Alambhana Wanawai Kolonel Inf Toto Rinanto di Pontianak, Sabtu.

Ia menjelaskan, rencana pembentukan batalion tank itu secara detil masih digodok di Mabes TNI AD.

"Pada dasarnya kami siap mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik dari gangguan luar dan dalam," kata Totok.

Menurut dia, lokasi akan dibangunnya batalion tank itu sudah dipersiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bengkayang.

"Saya bersama Pangdam XII Tanjungpura sudah turun langsung meninjau lokasi pembangunan batalion tersebut," ujarnya.

Sebelumnya Panglima Kodam XII Tanjungpura Mayjen TNI Moeldoko membenarkan, pembangunan batalion tank di Bengkayang akan dimulai pada 2011. Jumlah personel yang ditempatkan untuk batalion tersebut sekitar 600 orang.

"Sekarang, yang ada hanya setingkat Detasemen Kavaleri," kata dia.

Selain itu, jenis tank yang digunakan saat ini akan diganti dengan yang berkapasitas dan kemampuan tempur lebih baik. Jumlahnya pun lebih banyak.

Menurut dia, penempatan batalion tank di Bengkayang dengan pertimbangan daerah tersebut merupakan poros tengah di Kalbar.

Mobilisasi ke berbagai daerah di Kalbar juga lebih mudah dan cepat karena infrastruktur relatif baik.

"Misalnya menuju Sanggau, atau daerah perbatasan lainnya, mudah dilakukan," kata Moeldoko.

Kodam XII Tanjungpura juga akan terus melakukan pembinaan teritorial terpadu dengan pemerintah daerah setempat di wilayah perbatasan. Diantaranya mengenai aspek kesadaran bela negara, kewarganegaraan yang sadar akan hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Ia melanjutkan, penanganan di perbatasan perlu dilakukan secara menyeluruh. "Tidak hanya membangun sistem pertahanan dan keamanan," katanya.

Kodam XII Tanjungpura bermarkas di Pontianak dengan cakupan dua provinsi yakni Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

KOPASSUS MEMPERBARUI SENJATA

26 November 2010

Sebagai pasukan khusus, Kopassus akan selalu mengikuti perkembangan teknologi persenjataan terkini (photo : Kopassus)

Jakarta (ANTARA News) - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD akan segera memperbarui persenjataan perorangan bagi para personelnya meski tetap mempertimbangkan anggaran yang tersedia.
Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Mayjen TNI Paulus Lodewijk disela olah raga bersama kalangan media massa di Markas Komando Kopassus, Jumat, mengatakan, pengadaan senjata perorangan seperti senapan dan pistol itu tetap disesuaikan dengan anggaran yang dialokasikan pemerintah.
"Sebenarnya Alustistanya tidak mahal-mahal sekali karena satuan khusus kita berkaitan dengan teknologi maka kita juga harus menyesuaikan dengan teknologi senjata yang berkembang di luar," katanya.
Pengembangan kekuatan termasuk melengkapi persenjataan perorangan bagi personel baret merah, tambah Paulus Lodewijk, sesuai dengan kebijakan kekuatan pokok minimum.
"Jadi bukan mengurangi, tetapi meningkatkan secara bertahap kekuatan yang ada disesuaikan rencana strategis yang disetujui. Yang jelas Kopassus akan mendapat penambahan anggaran. Secara otomatis ada penambahan alutista," tuturnya.
Sebagai pasukan khusus, Kopassus dilengkapi berbagai perlengkapan dan persenjataan sangat canggih dan modern.
Semisal untuk membaca peta, tidak lagi menggunakan lagi Kompas Prisma, tapi GPS (Global Positioning System) yang langsung berhubungan dengan satelit.
Sedangkan untuk satuan antiterornya sudah dilengkapi senapan H&K MP5, yang merupakan standar pasukan khusus terbaik di dunia seperti yang digunakan oleh Green Beretts, Delta Force, Navy Seal, GSG 9 Jerman, SAS dan lain-lain.
Sementara untuk pistol yang dipakai Beretta 9 mm (45). Selain itu juga berbagai macam kaliber lainnya seperti kaliber 22 mm (pistol kecil).
Kopassus punya peralatan terjun payung tercanggih untuk melakukan HALO (High Altitude Low Opening) dan HAHO (High Altitude High Opening) yang memakai masker oksigen dan lain-lain.
Dengan peralatan terjun itu, pasukan dapat terjun dari ketinggian sekitar 10.000 kaki.
Pasukan ini juga dilengkapi peralatan pendaratan pantai (memiliki LCR/Landing Craft Rubber/perahu karet dengan mesin yang hampir tanpa bunyi, yang digunakan untuk operasi penyusupan di malam hari), menyelam (dilatih seperti UDT, Underwater Demolition Team US Navy), team Daki Serbu ( yang baru saja menaklukkan Himalaya dan dikenal di luar sebagai PPGAD/Persatuan Pendaki Gunung TNI AD).